ISPIKANI Dorong Hilirisasi Perikanan, Kunci Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Nelayan Menuju Indonesia Emas 2045
Ambon, indonesiatimur.co – Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) menegaskan bahwa percepatan hilirisasi sektor perikanan harus menjadi agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya kelautan dan perikanan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional yang digelar secara hybrid oleh Program Magister Ilmu Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman dengan tema “Hilirisasi Industri Perikanan sebagai Strategi Penguatan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Nilai Tambah Produk Perikanan”, pada Kamis (18/06/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, sebagai keynote speaker.
Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan maritim dunia. Dengan luas laut sekitar 6,4 juta kilometer persegi, garis pantai mencapai 108 ribu kilometer, serta produksi perikanan yang terus meningkat, sektor ini menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar.
Pada 2025, produksi perikanan nasional tercatat melampaui 1,40 juta ton dengan nilai ekspor mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat. Komoditas unggulan seperti udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut menjadi tulang punggung ekspor perikanan Indonesia.
Namun, di balik capaian tersebut, sebagian besar hasil perikanan masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku mentah. Kondisi ini membuat nilai tambah yang diperoleh nelayan dan pelaku usaha belum maksimal.
Wakil Sekretaris Jenderal III ISPIKANI, Amrullah Usemahu, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah krusial untuk mengubah paradigma pembangunan perikanan dari sekadar produksi menjadi penciptaan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Hilirisasi perikanan mencakup penguatan seluruh rantai pasok, mulai dari produksi, pengolahan, sertifikasi mutu, pemasaran hingga ekspor. Produk-produk olahan seperti surimi, fillet, ikan kaleng, produk beku, produk fermentasi, hingga produk berbasis rumput laut memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas perikanan Indonesia,” ujarnya.
Menurut Usemahu, penguatan hilirisasi juga harus dibarengi dengan penerapan standar dan sertifikasi internasional seperti MSC, ASC, BAP, Fair Trade Seafood, hingga GlobalG.A.P. Sertifikasi tersebut menjadi syarat penting untuk memperluas akses pasar global sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk perikanan Indonesia.
Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan serius. Mulai dari keterbatasan infrastruktur rantai dingin (cold chain), belum optimalnya integrasi kawasan industri perikanan, keterbatasan akses pembiayaan, kualitas sumber daya manusia, hingga kebutuhan peningkatan teknologi pengolahan dan sistem logistik.
Karena itu, ISPIKANI mendorong strategi terpadu melalui penguatan sarana dan prasarana industri perikanan, peningkatan kapasitas SDM, pengembangan riset dan inovasi teknologi, penguatan data dan sistem informasi, serta peningkatan kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi profesi.
Usemahu menilai sarjana perikanan memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak transformasi sektor kelautan dan perikanan nasional. Peran tersebut mencakup peningkatan produktivitas sektor hulu, pengembangan industri pengolahan, pendampingan sertifikasi mutu, penguatan pemasaran dan ekspor, hingga pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Saat ini, ISPIKANI telah membentuk 29 Dewan Pengurus Daerah (DPD) di seluruh Indonesia dan berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Kelautan dan Perikanan (FKPTPK) yang menaungi 67 perguruan tinggi. Jaringan ini dinilai menjadi kekuatan besar dalam membangun sinergi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mempercepat pembangunan sektor perikanan dari hulu hingga hilir. Program strategis yang tengah dijalankan antara lain pengadaan 1.582 kapal ikan modern, perekrutan 20.094 awak kapal perikanan, serta pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Program KNMP ditargetkan hadir di 1.369 lokasi pada periode 2025–2026 dan berkembang menjadi 5.000 kampung nelayan hingga 2029 dengan proyeksi menyerap 5.476 tenaga kerja prioritas.
“Program-program tersebut perlu diapresiasi dan didampingi agar benar-benar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir,” kata Usemahu yang juga merupakan Magister Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB.
Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan organisasi profesi, hilirisasi perikanan diyakini mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045. (it-02)


